“Mremo” (di) Bulan Ramadan

Standar

Oleh: M. Rikza Chamami, MSi


Suasana Ramadan di Kudus nampak unik. Suara mesin gemricik tak henti-henti terdengar dari pagi hingga larut malam. Suasana ini nyata terjadi di pelosok desa Langgardalem, Kauman, Purwosari, Damaran—yang notebene basis konveksi.

Bila berjalan ke utara, tepatnya di Kajeksan, Krandon dan Singocandi kondisinya agak beda. Disana yang terdengar adalah sayup-sayup dhog dhog dhog, tak lain bunyi martil (palu/pethik) yang digunakan nuthuki sandal dan sepatu. Asap hitam PUN mengepul ke angkasa dengan jilatan bara merah pertanda pembakaran genteng juga marak di Papringan. Walau kadang hujan tiba, produsi genteng dan batu bata tetap jalan.

Suasana pasar dari mulai Jetak, Jember, Bubar, Bitingan, Kliwon hingga Bareng juga tak pernah sepi. Hampir di setiap sudut pasar lalu lalang bakul tak pernah berhenti. Ada yang menawar dagangan, membeli barang dan tak jarang yang menagih hutang bulan sebelumnya. Wajar saja! Ini bulan Ramadan, atau Wulan Poso. Ramadan bagi wong Kudus ibarat bodo (hari raya). Maksudnya segala bentuk dagangan yang ada selalu saja laku, atau malah kadang kekurangan stok.

Namun kadang ada yang kurang percaya. Anggap saja di “kawasan industri” pengrajin sandal dan sepatu ada 50 pengrajin. Anehnya, pada bulan suci Ramadan semuanya membuat sandal dan tak sepi dari pesanan. Gampangnya begini! Kalau dalam sehari satu produsen bisa memproduk 3 kido, berarti sehari tercipta 150 kodi. Berarti asumsinya dalam 30 hari ada sandal sekitar 4500 kodi, atau 90.000 pasang. Lho kok laku semua, siapa saja yang beli? Padahal sandal itu setahun sekali memakainya. Belum lagi persaingan global dengan produksi pabrik yang lebih marketable dan layak pakai.

Kadang memang tak habis pikir. Orang Kudus nampak bertambah semangat bekerja ketika Ramadan datang. Bahkan ketika Ramadan mau habis, ada yang nggremeng; “Waduh Poso terus yo penak, iso cepet sugih”. Inilah bukti bahwa Ramadan juga memberikan peluang meningkatkan bisnis sebab regulasi ekonomi dalam bulan suci cukup prospektif.

Hal demikian disebabkan oleh tingkat kebutuhan konsumen bertambah untuk membeli “barang baru”. Selain itu pula, masyarakat pengguna juga banyak memegang duwit, ada yang terima THR, mbuka celengan, terima sahuran hutang dan atau menerima zakat. Sehingga akumulasi “sugih ndadak” waktu itu sangat dimungkinkan.

Kebahagiaan berbisnis dalam momentum Ramadan oleh orang Kudus disebut Mremo, menjual barang dengan laris dan harga lebih tinggi. Maka orang di pasar-pasar sering ditanyai temannya; “Piye ‘preman’-mu Bos, rame po ora?” Tentu bagi orang yang tak kenal logat Kudusan dia bingung. Kok “preman”? Apa maksdunya? Kalau tak pernah dengar tentu tercengang. Atau malah berprasangka buruk. “Wah pasti mereka suka mbajak, nyolong, njambret dsb. Padahal yang dimaksud “preman” bagi pedangan adalah mremo. Mremo gampangnya adalah kata kerja, sedangkan “preman” merupakan kata sifat.

Gairah bekerja di Kudus seakan sirna seketika semenjak bunyi sirine Pabrik Gula Rendeng berbunyi Ngung, pertanda pukul empat sore. Para buruh meninggalkan kerja dan pulang sembari menenteng kolak, es buah, es chao, es degan, sego pecel dan lain sebagainya. Secara kompak tanpa komando semuanya kembali pada keluarga untuk buka bersama. Begitu Ngung berbunyi panjang dan adzan maghrib dikomandangkan tiba saatnya berbuka para santri berdo’a; Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu wa bika amantu, birahmatika ya arhamarrahimin.

Setelah masuk arena ibadah, mereka sak yek sak eko proyo untuk menjalankan tarawih (ada yang 8 raka’at dan ada yang 20 raka’at). Begitu tarawih selesai dampar masjid ditata rapi dan dimulailah tadarus al-Qur’an dengan tartil. Mereka khusyu’ memanjatkan kalimat thoyyibah dan dzikir, seakan lupa pekerjaannya. Yang menjadi beda ketika Ramadan, setelah tadarus para wiraswastawan kembali kerja lembur hingga jan 22.00 WIB.

Dua hal yang mungkin paradoks dirasakan. Orang Kudus pagi-sore bekerja. Setelah itu, buka puasa, tarawih dan tadarus diikutinya. Begitu tadarus rampung, mereka kembali kerja. Semunya dijalankan dengan semangat ganda, ibadah dan cari nafkah.

Kesucian bulan ramadan ini mengandung dua hikmah. Pertama, dari aspek ubudiyyah memberikan iming-iming limpatan pahala dan kedua, aspek peningkatan ekonomi menjamin peluang untuk memajukan masyarakat. Dengan demikian, maka orang Kudus dapat mremo ibadah dan mremo dagangan. Semoga kesucian Ramadan menjadi berkah bagi seluruh umatnya. Walaupun ada isu kenaikan harga BBM disusul kenaikan harga sembako, setelah mremo tidak akan gelisah. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s