Merajut Ukhuwah Muslim-Cina Kudus

Standar

Oleh: M. Rikza Chamami, MSi

Gemerlap cahaya merah menyinari ruangan Klenteng Hok Ling Bio sebelah tenggara Masjid Al-Aqsha Menara. Adzan menggema dari menara setinggi 17 meter yang konon dibawa dari Arab Saudi. Pak Kaji dan Bu Kaji berdagang, baik souvenir dan oleh-oleh jenang Kudus di area Masjid. Di lokasi yang sama, Koh dan Cik membuka tokonya dengan menjual sembako dan aneka ragam makanan kemasan.

Tanpa mengingat peristiwa berdarah 31 Oktober – 1 November 1918, mereka berjualan, tanpa membedakan agama, suku dan warna kulit. Padahal, 87 tahun silam, di tempat ini terjadi huru-hara pribumi-Cina yang sedikitnya merenggut 40 nyawa, mencederai 58 orang dan 43 bangunan rumah orang Cina luluh lantak dimakan si jago merah.

Tragedi berdarah ini terjadi akibat kesalahpahaman dan provokasi. Ketika kaum berpeci bergotong-royong membangun “rumah Allah”, datang serombongan warga Cina dengan Liong Samsi yang menggema. Secara mendadak, terjadi aksi pukul akibat berpapasan dan tak ada yang mau mengalah. Sisi lain, rombongan Cina berpakaian ala haji memadu mesra seorang perempuan. Inilah pemicu konflik pribumi-Cina Kudus yang akhirnya 69 tokoh Muslim harus mendekam berbulan-bulan di “jeruji besi”.

Mestinya insiden itu tak terjadi! Karena ukhuwah umat Islam dan keturunan Tionghoa sudah terjalin sejak Sayyid Ja’far Shodiq masuk ke Loram. Kala itu, Koedoes Tempo Doeloe mempunyai tokoh sepuh bernama The Ling Sing. Tokoh Tionghoa inilah yang akhirnya menjadi mitra Sunan Kudus untuk mendirikan Balad al-Quds. Sebuah fenomena sejarah kemesraan Muslim dan Cina pada awal berdirinya “Kota Suci”.

Sekedar membuka lembar sejarah. Kudus memang sudah dikenal dalam Babad Tanah Jawi sejak pembukaan hutan Bintara oleh Raden Patah seijin Raja Majapahit. Artefak berciri khas Hindhu juga ditemukan di pemukiman tersebut. Panil batu dengan sengkelan trisula pinulet naga yang menunjukkan angka 885 H/1480 ditemukan di Langgardalem. Dan di mihrab Masjid Menara tertulis tahun 956 H/1549 yang dijadikan pengabadian berdirinya kota Kudus.

Konon, Mbah Sunan juga melarang pengikutnya menyembelih sapi. Sebab sapi dikultuskan oleh umat Hindhu. Lain dari pada itu, folklor Kudus juga menyebutkan bahwa sapi betina pernah berjasa pada Kanjeng Sunan. Ketika pulang dari Pajang, dia beserta bala tentaranya kehausan di tengah lading kering saat musim kemarau. Datanglah seekor sapi betina yang susunya bisa dinikmati seluruh rombongan.

Berinisitiflah ia mengikat sapinya yang diberi nama “Kebo Gumarang” di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah pidato Sunan Kudus tentang surat al-Baqarah yang berarti “sapi betina” dengan digubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah.

Tiga petinggi Kudus dari mulai Sunan, Panembahan dan Pangeran banyak memberikan contoh kemesraan beragama. Maka pencitraan Kudus sebagai “kota damai” seyogyanya tetap dijaga. Keharmonisan beragama akan menjamin ketentraman dan menunjang kemajuan serta kemapanan ekonomi.

“Perayaan 600 tahun Pelayaran Cheng Ho” di Semarang patut direnungkan! Laksamana kelahiran Provinsi Yunan 1371 blasteran Asia Tenggara-Cina ini disebut sebagai pelaut Cina beragama Islam penyebar toleransi. Strategi yang digunakan Cheng Ho adalah elaborasi dakwah Nabi Muhammad, Tao Zhugong, Konfusiusme dan Lautze. Cheng Ho beda dengan pelayar Eropa yang kejam dengan kolonisasi dan misi perampasan dunia. Akhirnya ia berhasil berlayar tujuh kali selama 28 tahun memimpin 208 kapal dan 28.000 orang.

Kalau Semarang punya Cheng Ho, Kudus punya Kyai Telingsing. Maka napak tilas perjalanan Kyai Telingsing juga menjadi satu budaya yang patut dikembangkan. Sampai sekarang, makamnya banyak dikunjungi warga keturunan Cina untuk minta berkah. Kyai Telingsing adalah tokoh milik semua umat. Tauladan yang dibangun antara Sunan Kudus dan Kyai Telingsing adalah simbol keharmonisan Muslim dan Cina.

Untuk mewujudkan Kudus Society, patut kiranya merajut kembali ukhuwah Muslim dengan Cina. Satu hal riil adalah dengan mengabadikan tokoh Kyai Telingsing sebagai pahlawan penyambung kultur Cina dan Islam. Keuletan, kegigihan dan etos kerja yang dimiliki warga Kudus adalah hasil sintesa kebudayaan Islam dan Cina.

Dalam kepentingan ekonomi, ukhuwah Muslim dengan Cina Kudus akan menarik minat investor luar negeri masuk ke Kudus. Sumbangan dua sektor penting industri pengolahan dan perdagangan yang mencapai 62,26% dan 26,27% akan bertambah melambung tinggi dengan perwujudan iklim toleran dan harmonis di Kudus.*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s